94% Yakin Data Sudah Terhapus. Tapi Apakah Data Benar-Benar Sudah Hilang?

Blog News September 03, 2026

Bagi banyak organisasi, akhir dari sebuah device lifecycle terlihat sederhana: laptop diganti, server dipensiunkan, storage device dikeluarkan dari data center, lalu aset dibuang, dijual kembali, atau digunakan kembali.

Masalahnya, data tidak otomatis ikut pensiun bersama device.

Sebuah laptop yang sudah tidak digunakan oleh karyawan masih dapat menyimpan dokumen, credentials, customer information, atau data perusahaan. Begitu pula storage device yang telah dikeluarkan dari infrastructure tetapi belum melalui proses data sanitization yang tepat.

Menariknya, mayoritas organisasi sebenarnya merasa yakin bahwa mereka sudah menangani masalah ini dengan baik. 94% responden dalam Blancco Sanitization Report 2026 menyatakan cukup, sangat, atau amat yakin bahwa drive dan device mereka sudah bebas data sebelum disposal.

Namun, ada angka lain yang patut diperhatikan.

38% organisasi melaporkan mengalami data leak dalam 12 bulan terakhir. Dari organisasi yang mengalami data leak tersebut, 32% mengaitkannya dengan drives atau devices yang di-redeploy tetapi masih menyimpan sensitive data.

Di sinilah persoalannya.

Confidence bahwa data sudah dihapus belum tentu sama dengan bukti bahwa data benar-benar sudah irrecoverable.

Ketika Device Tidak Lagi Digunakan, Risikonya Belum Tentu Berakhir

Data security biasanya mendapat perhatian terbesar ketika data sedang aktif digunakan.

Network dilindungi. Endpoint diamankan. Access dikontrol. Data dienkripsi. Monitoring dilakukan.

Tetapi ketika sebuah device memasuki tahap end-of-life, security process dapat menjadi lebih tidak konsisten.

Device dapat disconnect dari network, disimpan di warehouse, dipindahkan ke IT Asset Disposition (ITAD) provider, kemudian diredeploy, dijual, didaur ulang, atau dihancurkan.

Setiap perpindahan menciptakan satu pertanyaan penting:

Apakah data di dalam device sudah benar-benar tidak dapat dipulihkan sebelum aset tersebut berpindah tangan?

Blancco Sanitization Report 2026 menunjukkan bahwa praktik di lapangan belum seragam. Untuk laptop dan desktop, misalnya, 36% organisasi masih menggunakan pendekatan di mana device terlebih dahulu disconnected dari network, disimpan secara lokal, dan baru kemudian dikirim untuk final dispositioning.

Semakin lama device berada di luar controlled environment sementara datanya masih ada, semakin besar window of exposure yang harus dikelola.

Device mungkin hilang.

Device mungkin dicuri.

Device mungkin salah dikirim.

Atau device mungkin langsung masuk ke tangan pengguna baru.

Dan ketika itu terjadi, security control yang sebelumnya melindungi data di dalam organisasi mungkin sudah tidak lagi tersedia.

94% Confidence, tetapi 38% Mengalami Data Leak

Angka 94% terlihat meyakinkan.

Tetapi jika dibandingkan dengan temuan lain dalam report, muncul gap yang sulit diabaikan.

38% responden mengalami data leak dalam satu tahun terakhir. Sebagian besar data leak tersebut memang dikaitkan dengan improper network configurations, yaitu 46%. Namun data-bearing assets yang berpindah tangan juga menjadi sumber masalah yang signifikan.

Sebanyak 32% organisasi yang mengalami data leak mengaitkannya dengan redeployed drives atau devices yang masih menyimpan sensitive data.

Report juga mencatat bahwa lost devices berkontribusi terhadap 42% dari data leak yang dilaporkan, sementara stolen devices dikaitkan dengan 25%.

Artinya, risiko tidak hanya berada pada bagaimana organisasi melindungi data saat device masih aktif.

Risiko juga berada pada apa yang terjadi terhadap data ketika device tersebut meninggalkan lifecycle sebelumnya.

Inilah blind spot yang sering luput: end-of-life data security.

Delete, Reformat, dan Erase Bukan Hal yang Sama

Salah satu penyebab munculnya gap tersebut adalah penggunaan metode sanitization yang tidak konsisten.

Report menemukan bahwa berbagai organisasi masih menggunakan metode yang tidak selalu memberikan assurance yang sama terhadap irrecoverability data.

Contohnya adalah reformatting.

Sebanyak 33% organisasi menggunakan reformatting untuk laptop dan desktop sebagai bagian dari proses data destruction. Padahal, data yang hanya direformat dapat berpotensi dipulihkan menggunakan forensic tools yang tersedia secara luas.

Metode lain yang digunakan adalah paid software-based overwriting tools tanpa certification. Pendekatan ini digunakan oleh 22% organisasi untuk laptop dan desktop serta 19% untuk data center assets. Masalahnya bukan semata-mata penggunaan software, tetapi apakah metode tersebut sesuai dengan recognized industry standard dan apakah keberhasilan proses erasure benar-benar diverifikasi.

Karena itu, penting untuk membedakan tiga hal:

Delete berarti data tidak lagi terlihat atau dapat diakses melalui cara penggunaan normal.

Reformat membuat storage terlihat seperti kondisi kosong atau siap digunakan kembali.

Verified Data Erasure memiliki tujuan yang berbeda: data dihapus secara permanen sesuai metode yang tepat, kemudian proses tersebut diverifikasi sehingga organisasi memiliki evidence bahwa sanitization telah berhasil.

Perbedaannya sederhana, tetapi konsekuensinya besar.

Yang dibutuhkan organisasi bukan sekadar device yang terlihat kosong. Mereka membutuhkan confidence yang dapat dibuktikan.

Policy Ada, Tetapi Implementasinya Belum Selalu Konsisten

Masalah ini ternyata tidak hanya bersifat teknis.

Sebanyak 89% organisasi melaporkan telah memiliki asset sanitization policies. Namun hanya 61% yang mengatakan bahwa policy tersebut telah diimplementasikan dan dikomunikasikan di seluruh organisasi.

Gap ini penting.

Sebuah policy yang hanya tersimpan di dokumen tidak akan banyak membantu ketika sebuah laptop dikembalikan oleh employee, sebuah storage device dikeluarkan dari server, atau ratusan device dikirim ke ITAD provider.

Tanpa proses yang konsisten, setiap team, lokasi, atau vendor dapat menerapkan pendekatan berbeda.

Hasilnya adalah inconsistent sanitization.

Dan semakin besar organisasi, semakin sulit untuk memastikan bahwa setiap device mendapatkan treatment yang sama tanpa proses yang terstandardisasi, terukur, dan dapat diaudit.

Ketika Takut Data Bocor, Device Langsung Dihancurkan

Ada respons yang sangat manusiawi terhadap risiko seperti ini:

Kalau tidak yakin datanya aman, hancurkan saja device-nya.

Secara security, pendekatan ini memang dapat mengurangi risiko data recovery. Tetapi destruction bukan selalu jawaban yang paling efektif.

Blancco menemukan bahwa banyak device yang dihancurkan sebenarnya masih dalam kondisi fully functional.

Hal tersebut terjadi pada:

  • 43% mobile devices
  • 35% laptops dan desktop PCs
  • 44% data center assets

Di sisi lain, 77% responden justru menyatakan memiliki preferensi untuk melakukan reuse dibandingkan destruction.

Ini menciptakan contradiction yang menarik.

Organisasi ingin melakukan reuse.

Organisasi ingin meningkatkan sustainability.

Tetapi kekhawatiran terhadap data security membuat device yang masih bernilai justru dihancurkan.

Dengan kata lain:

security anxiety dapat berubah menjadi economic waste.

Data Security dan Sustainability Tidak Harus Saling Bertentangan

Jika device masih functional, destruction bukan satu-satunya pilihan.

Sebuah laptop yang sudah tidak cukup powerful untuk satu department mungkin masih sangat layak digunakan oleh department lain. Device tersebut dapat diberikan kepada employee lain, digunakan untuk secondary workloads, atau masuk ke secondary market.

Tetapi semua opsi tersebut membutuhkan satu prerequisite:

data sebelumnya harus benar-benar sudah disanitasi.

Inilah mengapa data sanitization seharusnya dilihat sebagai bagian dari IT Asset Lifecycle, bukan hanya aktivitas terakhir sebelum device dibuang.

Ketika data dapat dihapus secara aman dan hasilnya dapat diverifikasi, organisasi memiliki lebih banyak pilihan terhadap aset tersebut.

Bukan hanya:

Use → Retire → Destroy

tetapi:

Use → Sanitize → Verify → Reuse

atau:

Use → Sanitize → Verify → Resell / Recycle

Perubahan ini memungkinkan security objective dan sustainability objective berjalan bersamaan.

Standardisasi Mengubah Confidence Menjadi Proof

Blancco Sanitization Report 2026 menyoroti pentingnya mengikuti technical standards dalam data sanitization, termasuk NIST SP 800-88 dan IEEE 2883. Standards tersebut memberikan guidance mengenai bagaimana data dapat dihapus secara secure dan irreversible berdasarkan jenis media dan kebutuhan sanitization.

Namun, mengikuti standard saja belum cukup jika organisasi tidak dapat menunjukkan bahwa proses tersebut benar-benar dilakukan.

Karena itu, proses ideal data sanitization perlu menjawab setidaknya empat pertanyaan:

1. What data needs to be removed?

Organisasi perlu memahami data apa yang berada pada asset dan tingkat sensitivity-nya.

2. What sanitization method should be used?

Metode harus disesuaikan dengan jenis storage media, device, dan kebutuhan security.

3. Was the erasure successful?

Proses tidak berhenti ketika software menyatakan erasure selesai. Hasilnya perlu diverifikasi.

4. Can the organization prove it?

Organisasi membutuhkan evidence yang dapat digunakan untuk audit, compliance, internal governance, maupun asset disposition.

Dengan pendekatan ini, statement data sudah dihapus berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat:

data sudah dihapus, prosesnya diverifikasi, dan hasilnya dapat dibuktikan.

Dari Destroy to Reuse: Sebuah Perubahan Cara Berpikir

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki 500 laptop yang akan diganti.

Pendekatan lama mungkin terlihat seperti ini:

500 laptop retired → dikumpulkan → disimpan → dikirim ke disposal → dihancurkan

Masalahnya, perusahaan kehilangan seluruh residual value dari device tersebut.

Alternatifnya:

500 laptop retired → data erasure → verification → certification → assessment → redeployment / resale / recycling

Security tidak lagi bergantung pada penghancuran physical device.

Sebaliknya, security bergantung pada kepastian bahwa data sudah tidak dapat dipulihkan.

Dan ini jauh lebih relevan ketika organisasi menghadapi peningkatan data volume, AI adoption, hardware cost, serta tuntutan sustainability secara bersamaan.

Report mencatat bahwa 90% responden telah melakukan deployment AI dalam satu tahun terakhir, dan dari kelompok tersebut, 99% menghancurkan setidaknya sebagian drives atau devices sebagai akibat dari deployment tersebut.

Semakin banyak data yang dibuat, diproses, dan disimpan, semakin penting pula organisasi memiliki pendekatan yang scalable terhadap data sanitization.

Bagaimana Blancco Menjawab Gap tersebut?

Di sinilah Blancco Data Erasure menjadi relevan.

Pendekatannya bukan sekadar membuat device terlihat kosong, tetapi menyediakan proses secure data erasure yang dapat diverifikasi dan didokumentasikan.

Dengan data erasure yang terstandardisasi, organisasi dapat mengurangi ketergantungan pada destruction dan membuka lebih banyak opsi untuk asset reuse.

Nilainya bukan hanya pada proses menghapus data.

Nilainya terletak pada kemampuan untuk menjawab:

Apakah data benar-benar sudah tidak dapat dipulihkan?

dan:

Bisakah organisasi membuktikannya?

Untuk organisasi dengan ribuan endpoint, data center assets, atau mobile devices, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Data sanitization perlu menjadi proses yang repeatable, measurable, dan auditable, bukan aktivitas manual yang bergantung pada asumsi setiap individu atau vendor.

Key Takeaways

Blancco Sanitization Report 2026 menunjukkan bahwa tantangan data sanitization bukan semata-mata kurangnya awareness.

Justru sebaliknya.

Organisasi sudah aware. Mereka bahkan sangat confident.

Masalahnya adalah apakah confidence tersebut didukung oleh proses yang konsisten dan evidence yang dapat diverifikasi.

Ada empat hal yang perlu diperhatikan:

1. Confidence is not proof.
 
94% organisasi yakin data sudah disanitasi, tetapi data leak dari redeployed devices menunjukkan bahwa confidence tidak selalu mencerminkan operational reality.

2. Reformatting is not sufficient data sanitization.
 
Device yang terlihat kosong belum tentu bebas dari data yang dapat dipulihkan.

3. Destruction is not the only path to security.
 
Jika data dapat dihapus dan diverifikasi secara reliable, functional devices dapat memiliki kesempatan kedua melalui reuse.

4. Verified data erasure enables security and sustainability.
 
Dengan proses sanitization yang sesuai standard, terverifikasi, dan terdokumentasi, organisasi dapat mengurangi data risk sekaligus mempertahankan value dari IT assets.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan:

Apakah kita yakin data sudah terhapus?

Tetapi:

Apakah kita memiliki bukti bahwa data tersebut benar-benar sudah tidak dapat dipulihkan?

Itulah perbedaan antara confidence dan trust dalam data sanitization.

Ingin Mengetahui Seberapa Aman Proses Data Sanitization di Organisasi Anda?

Data security tidak berakhir ketika sebuah device berhenti digunakan.

Dymar membantu organisasi memahami bagaimana secure data erasure dapat menjadi bagian dari IT Asset Lifecycle, sehingga data protection, compliance, asset reuse, dan sustainability dapat berjalan dalam satu proses yang terukur.

Untuk laporan lebih lanjut tentang blancco data sanitization dapat didownload di :

https://drive.google.com/file/d/1uroLd0YRPEdXUr0x8BrjPtgtWVOWcu4c/view?usp=sharing

Hubungi Dymar untuk berdiskusi mengenai solusi Blancco Data Erasure dan bagaimana membangun proses data sanitization yang dapat diverifikasi dan dipertanggungj

  • Share this