Di tengah desakan global dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) untuk mempercepat aksi iklim, dunia korporasi kini menghadapi ancaman emisi yang kerap luput dari radar: jejak data (data footprint). Menurut proyeksi IDC, konsumsi data global diperkirakan melonjak hingga 221 zettabytes pada 2026 — dan setiap byte yang tersimpan, termasuk data yang sudah tidak terpakai, turut menyumbang konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca yang signifikan.
Riset bertajuk “Sustainability Costs of End-of-Life Data: Are We Doing Enough to Combat Excess Data and E-Waste?” yang dirilis Blancco pada Juni 2023 mengungkap betapa lebarnya kesenjangan antara kesadaran dan tindakan nyata perusahaan dalam mengelola data usang (End-of-Life data/EOL data).
Metodologi Riset
Studi independen ini dilakukan oleh Coleman Parkes pada November–Desember 2022, melibatkan 1.800 pengambil keputusan di bidang retensi dan pembuangan data, terbagi rata antara sektor Jasa Keuangan dan Layanan Kesehatan, di enam negara: Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, dan Jepang. Mayoritas responden (48%) berasal dari organisasi besar dengan lebih dari 10.000 karyawan, dan 81% di antaranya merupakan bagian dari tim senior pengambil keputusan.
Temuan Utama: Sadar tapi Tidak Bertindak
Migrasi ke cloud sering dianggap sebagai solusi efisiensi, namun riset ini menemukan fakta sebaliknya: bagi 65% organisasi, perpindahan ke cloud justru memperbesar volume data ROT (Redundant, Obsolete, or Trivial) — data yang redundan, usang, atau tidak lagi relevan. Penumpukan ini terus mengonsumsi energi listrik dalam jumlah besar untuk pemeliharaan infrastruktur, baik on-premise maupun cloud.
Secara umum, kesadaran akan isu ini sebenarnya cukup tinggi: 96% responden mengaku sadar akan dampak lingkungan dari jejak data mereka, dan 62% organisasi mengklaim telah memiliki rencana aksi mitigasi. Namun laporan ini menyoroti fenomena yang disebut sebagai risiko “sleepwalking” — sepertiga organisasi (34%) sudah sadar akan masalah ini tetapi belum mengeksekusi rencana apa pun, menunda tindakan demi prioritas bisnis lain.
Tantangan semakin kompleks pada pelaporan emisi Scope 3 (emisi tidak langsung di sepanjang rantai nilai), yang kerap menyumbang lebih dari 70% total jejak karbon perusahaan besar. Meski 85% organisasi mengklaim telah mengukur emisi Scope 3 mereka, hanya 1 dari 10 organisasi yang benar-benar menetapkan target pengurangan untuk kategori emisi ini. Memperparah situasi, 35% organisasi mengaku tidak memercayai penyedia layanan cloud mereka untuk mengelola data EOL secara tepat, mengingat vendor cloud umumnya hanya melaporkan prosedur umum, bukan tindakan spesifik atas data klien.
Tekanan dari Regulator dan Pasar
Pemerintah di berbagai negara mulai memperketat aturan untuk memberantas praktik greenwashing. Di Inggris, FCA memperkenalkan label investasi berkelanjutan dan membatasi penggunaan istilah keberlanjutan dalam pemasaran. Uni Eropa melalui EU Taxonomy dan CSRD mewajibkan pelaporan ESG yang terstandardisasi, sementara Jerman menerapkan LkSG (Supply Chain Act) yang memaksa perusahaan besar memantau standar sosial dan lingkungan di seluruh rantai pasok global mereka. Di Amerika Serikat, SEC tengah mengusulkan aturan yang mewajibkan registran mengungkap target iklim serta emisi Scope 3 hulu dan hilir secara berkala.
Di luar tekanan regulasi, pasar juga mendorong perubahan: 44% responden menyatakan investor dan konsumen lebih menyukai perusahaan berkelanjutan, sementara 51% melihat bahwa talenta profesional kini lebih memilih bekerja di organisasi yang ramah lingkungan.
Tiga Pilar Solusi
Blancco merumuskan tiga langkah strategis untuk membantu organisasi menyelaraskan diri dengan target Net Zero:
Pertama, minimalisasi data — menghapus data yang sudah tidak dibutuhkan untuk memangkas emisi penyimpanan sekaligus memperkecil risiko kebocoran data dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi seperti GDPR.
Kedua, penekanan sampah elektronik — alih-alih menghancurkan media penyimpanan secara fisik, perusahaan didorong menerapkan penghapusan data yang aman sehingga perangkat IT dapat digunakan kembali (reuse) dan mendukung ekonomi sirkular.
Ketiga, mendorong komunikasi antardepartemen, karena sering kali tim keberlanjutan tidak mengasosiasikan manajemen data EOL sebagai area reduksi emisi, sementara tim IT belum menyadari dampak aktivitas mereka terhadap target hijau perusahaan.
Dari Kesadaran Menuju Aksi
Kesenjangan antara kesadaran dan eksekusi ini menjadi peringatan penting bagi perusahaan di sektor mana pun. Memiliki rencana keberlanjutan saja tidak cukup tanpa eksekusi yang konkret dan terukur, terutama dalam mengelola siklus hidup data hingga tahap akhirnya.
Di sinilah solusi seperti Blancco Data Erasure berperan: menyediakan teknologi penghapusan data yang tersertifikasi dan dapat diaudit, memungkinkan organisasi menghapus data secara permanen dan aman tanpa harus menghancurkan media fisik. Pendekatan ini memungkinkan perangkat IT dikembalikan ke ekonomi sirkular, sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi privasi data yang berlaku secara global.
Diskusikan kebutuhan data erasure di organisasi Anda bersama tim Dymar untuk memastikan proses yang aman, terukur, dan sesuai regulasi yang berlaku.