Mantan Insinyur Google Bocorkan Rahasia Chip Pixel ke Publik, Berujung Gugatan Federal di Texas

Blog News July 15, 2026

Kasus kebocoran rahasia dagang kembali mengguncang industri teknologi. Google LLC resmi menggugat mantan insinyur semikonduktornya, Harshit Roy, ke Pengadilan Federal Texas pada akhir November 2024, setelah yang bersangkutan diduga membocorkan ratusan dokumen rahasia terkait chip Google Pixel ke platform media sosial.

Kronologi Singkat

Harshit Roy bekerja sebagai insinyur semikonduktor di Google India, Bengaluru, sejak 2020 hingga Maret 2024. Selama masa kerjanya, ia terlibat langsung dalam perancangan dan pengembangan chipset internal untuk lini Google Pixel — termasuk akses terhadap data sensitif soal kekuatan dan kelemahan performa chip, hingga spesifikasi cryptographic accelerator dan SoC generasi mendatang yang belum dirilis ke publik.

Setelah resmi keluar dari Google dan pindah ke Austin, Texas untuk melanjutkan studi S3 di University of Texas, Roy membawa serta laptop dinas perusahaan. Antara Oktober–November 2024, ia mengunggah folder berisi 158 foto dokumen internal Google di LinkedIn, serta memposting foto laptop dinasnya yang menampilkan spesifikasi teknis rahasia di X (Twitter).

Yang memperburuk situasi, Roy secara terbuka menyatakan tidak akan mematuhi perjanjian kerahasiaan apa pun, bahkan menandai akun Apple dan Qualcomm — dua kompetitor utama Google — dengan tawaran informasi lebih lanjut.

Eskalasi ke Jalur Hukum

Google sempat mengirimkan beberapa cease and desist notice, namun diabaikan. Investigator yang disewa Google bahkan berhasil melacak dan menyerahkan surat penyelesaian di luar pengadilan secara langsung di area kampus UT Austin pada 14 November 2024. Roy tetap menolak kooperatif, sehingga Google akhirnya mendaftarkan gugatan resmi berdasarkan Defend Trade Secrets Act (DTSA) dan Texas Uniform Trade Secrets Act (TUTSA), menuntut ganti rugi finansial sekaligus injungsi darurat untuk menghentikan penyebaran lebih lanjut.

Celah yang Sebenarnya Bisa Dicegah

Yang menarik dari kasus ini bukan hanya soal motif Roy, tetapi bagaimana kebocoran terjadi: lewat tangkapan layar dan foto layar perangkat kerja. Ini adalah pola klasik yang sulit dideteksi oleh sistem keamanan konvensional seperti DLP (data loss prevention) berbasis jaringan atau enkripsi file, karena begitu data tampil di layar, ia bisa difoto dengan kamera ponsel — tanpa meninggalkan jejak digital yang bisa dilacak.

Di sinilah teknologi seperti AgileMark (Screen Watermarking) relevan. AgileMark menyisipkan watermark unik dan tak kasat mata (atau samar) pada setiap tampilan layar — termasuk informasi identitas pengguna, waktu akses, dan perangkat — sehingga setiap foto atau tangkapan layar yang bocor dapat ditelusuri kembali ke individu yang mengaksesnya. Pendekatan ini mengubah skema keamanan dari sekadar “mencegah akses” menjadi “membuat kebocoran dapat dipertanggungjawabkan”, sebuah lapisan krusial bagi perusahaan yang mengelola kekayaan intelektual sensitif seperti rahasia desain chip.

Bagi organisasi yang ingin memahami lebih lanjut bagaimana AgileMark dapat diterapkan untuk melindungi data rahasia dari insider threat semacam ini, dapat menghubungi Dymar Jaya Indonesia.

  • Share this