Banyak organisasi merasa sudah berada di posisi yang cukup aman. Mereka memiliki firewall, endpoint protection, SOC, SIEM, dan berbagai kontrol keamanan internal lainnya. Dari sudut pandang internal, semuanya terlihat terkendali.
Masalahnya, sebagian besar serangan siber tidak dimulai dari dalam sistem.
Penyerang bekerja dari luar. Mereka mengumpulkan informasi, memetakan target, mencari kredensial bocor, dan berdiskusi di forum atau kanal tertutup sebelum satu pun alarm internal berbunyi. Jika organisasi hanya mengandalkan visibilitas internal, maka deteksi baru terjadi ketika ancaman sudah masuk ke lingkungan produksi.
Di sinilah konsep external threat visibility menjadi semakin relevan.
External threat visibility adalah kemampuan organisasi untuk melihat dan memahami bagaimana aset digital mereka terekspos di luar perimeter, termasuk di dark web, deep web, forum underground, marketplace ilegal, dan kanal komunikasi threat actor. Pendekatan ini melengkapi kontrol keamanan internal dengan sudut pandang yang sering kali luput dari perhatian.
Pendekatan keamanan tradisional umumnya bersifat reaktif. SOC dan SIEM bekerja berdasarkan log, alert, dan aktivitas yang terjadi di dalam sistem. Endpoint protection mendeteksi eksekusi berbahaya setelah malware dijalankan. Semua kontrol ini penting, namun memiliki keterbatasan yang sama: mereka bekerja setelah ancaman menyentuh lingkungan internal.
Sementara itu, banyak indikator awal serangan justru muncul lebih dulu di luar organisasi. Kredensial karyawan yang bocor dan dijual, domain palsu yang meniru brand perusahaan, atau diskusi tentang kerentanan sistem di forum tertutup sering kali sudah tersedia jauh sebelum serangan dieksekusi. Tanpa visibilitas eksternal, sinyal-sinyal ini tidak pernah masuk ke radar tim keamanan.
Dalam praktiknya, external threat visibility membantu enterprise memahami beberapa risiko utama. Salah satunya adalah kebocoran kredensial. Username dan password hasil phishing atau malware sering diperjualbelikan di dark web. Jika tidak terdeteksi lebih awal, kredensial ini dapat digunakan untuk akses awal (initial access) ke sistem internal tanpa memicu alarm teknis yang mencurigakan.
Risiko lain adalah penyalahgunaan brand dan domain. Threat actor kerap membuat domain palsu yang menyerupai domain resmi perusahaan untuk keperluan phishing atau penipuan. Dari sisi internal, sistem mungkin terlihat normal, namun dari sudut pandang eksternal, reputasi brand sudah disalahgunakan dan pelanggan berisiko menjadi korban.
External threat visibility juga memberikan early warning terhadap serangan besar, seperti ransomware. Banyak grup ransomware mendiskusikan target potensial, akses awal yang tersedia, atau hasil kompromi awal di forum tertutup sebelum serangan dilakukan. Informasi semacam ini, jika terdeteksi lebih awal, dapat memberikan waktu bagi organisasi untuk melakukan mitigasi sebelum dampak operasional terjadi.
Selain itu, visibilitas eksternal membantu organisasi memahami risiko supply chain dan pihak ketiga. Informasi tentang vendor, partner, atau teknologi yang digunakan sering menjadi pintu masuk penyerang. Tanpa pemantauan eksternal, eksposur ini sulit diidentifikasi secara menyeluruh.
Pendekatan external threat visibility bukan berarti menggantikan SOC atau kontrol internal lainnya. Sebaliknya, pendekatan ini berfungsi sebagai lapisan pelengkap. Informasi dari luar dapat digunakan untuk memperkaya konteks internal, memprioritaskan risiko, dan mempercepat pengambilan keputusan. Dengan sudut pandang ini, tim keamanan tidak hanya bereaksi terhadap insiden, tetapi juga mampu bersikap lebih proaktif.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, enterprise mulai mengadopsi platform external threat intelligence dan digital risk protection yang mampu memantau berbagai sumber eksternal secara berkelanjutan. Platform semacam ini mengumpulkan data dari dark web, deep web, forum underground, media sosial, dan sumber terbuka lainnya, lalu menganalisis relevansinya terhadap organisasi.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah dengan memetakan eksposur organisasi berdasarkan domain, brand, aset digital, dan identitas yang relevan. Dengan cara ini, tim keamanan dapat memperoleh visibilitas yang lebih luas tentang apa yang sudah diketahui pihak luar, bukan hanya apa yang terjadi di dalam sistem.
Dalam konteks ini, Cyble Vision hadir sebagai solusi yang membantu enterprise mendapatkan visibilitas eksternal secara terstruktur. Platform ini dirancang untuk memberikan insight terkait kebocoran data, aktivitas threat actor, penyalahgunaan brand, dan indikasi awal serangan yang relevan dengan organisasi. Informasi tersebut dapat digunakan oleh tim keamanan dan manajemen risiko untuk mengambil langkah mitigasi yang lebih cepat dan tepat.
Di Indonesia, implementasi solusi external threat visibility seperti Cyble Vision didukung oleh mitra lokal yang memahami konteks risiko dan regulasi enterprise. Dymar merupakan authorized partner Cyble di Indonesia, yang membantu organisasi dalam adopsi, integrasi, serta pemanfaatan insight external threat intelligence sesuai kebutuhan operasional dan manajemen risiko.
Pendekatan ini memungkinkan enterprise tidak hanya mendapatkan visibilitas eksternal, tetapi juga menerjemahkan insight tersebut menjadi langkah mitigasi yang relevan dan terukur.